
oleh :WIRATMO SOEKITO
Konsep atau posisi realisme sosialis diserang terutama oleh karena posisinya yang mempertahankan, bahwa lebih baik politik dari pada seni – artinya, bila terdapat pertentangan antara politik dan seni maka politiklah yang harus dimenangkan – sedangkan sebaliknya konsep atau posisi humanisme universal diserang terutama oleh karena posisinya yang mempertahankan, bahwa lebih baik seni dari pada politik. Menurut H.B Jassin bahwa seorang penyair boleh saja menganut suatu aliran politik – katakanlah misalnya sosialisme – tetapi sajaknya harus merupakan sajak yang bermutu. Lawan-lawannya dari kubu realisme sosialis menaruh keberatan terhadap posisi ini, karena tidak mengesampingkan sajak-sajak ciptaan seorang penyair penganut imperialisme. Tahun 1960-1963 konflik antara humanisme universal dan realisme sosialis masih terbatas pada serangan terhadap pendapat. Akan tetapi dari polemik mereka dalam tahun-tahun 1963-1964 dapat disimpulkan dengan jelas bahwa bukan hanya pendapat para penganut humanisme universal, melainkan juga hak mereka untuk berpendapat yang diserang. Situasi budaya setelah tahun 1966 telah memulihkan iklim sebelum tahun 1963. memang benar pada tahun 1966 ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme telah dilarang, tetapi kaum manifestan yang konsisten dengan humanisme universal mereka tidak pernah menyerang hak para penganut realisme sosialis untuk menyatakan pendapat mereka. Harus diperhatikan setelah manikebu dilarang pada tahun 1964 para penganut realisme sosialis telah menyambut dengan positif larangan tersebut sebagai suatu restu kepada mereka untuk mengganyang humanisme universal. Posisi seperti itu pada gilirannya telah disambut dengan positif oleh almarhun Ir.Soekarno yang menyatakan : Ganyanglah Manikebu, sebab Manikebu melemahkan Revolusi. Larangan Marxisme-Leninisme bukanlah tindakan budaya melainkan tindakan politik.
READ MORE - KELAHIRAN SEORANG SASTRAWAN, PEMULIHAN FUNGSI INTELEKTUAL
Menjadari bahwa rakdjat adalah satoe2 -nja pentjipta keboedajaan, dan bahwa pembangoenan keboedajaan Indonesia-baroe hanja dapat dilakoekan oleh rakdjat, maka pada hari 17 Agoestoes 1950 didirikanlah Lembaga Keboedajaan Rakdjat, disingkat Lekra. Pendirian ini terdjadi di tengah2 proses perkembangan keboedajaan, yang, sebagai hasil keseloeroean dajaoepaja manoesia secara sadar memenoehi, setinggi2 -nja keboetoehan hidoep lahir dan batin, senantiasa madjoe dan tiada poeteos2 -nja.
Revoloesi Agoestoes 1945 memboektikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seloeroeh sedjarah bangsa kita, tiada lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia dewasa ini adalah semoea golongan di dalam masjarakat jang menentang pendjadjahan. Revolusi Agoestoes adalah oesaha dari pembebasan diri rakjat Indonesia dari pendjadjahan dan peperangan pendjadjahan serta penindasan feodal. Hanja djika panggilan sedjarah Revolusi Agoestoes terlaksana, djika tertjipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, keboedajaan rakjat bisa berkembang bebas. Kejakinan tentang kebenaran ini menjebabkan Lekra bekerdja membantoe pergoelatan oentoek kemerdekaan tanah air dan oentoek perdamaian diantara bangsa2, dimana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berdjuta rakjat.
Lekra bekerdja khusus di lapangan keboedajaan, dan oentoek masa kini terutama di lapangan kesenian dan ilmoe. Lekra menghimpoen tenaga dan kegiatan seniman2, sardjana2 dan pekerdja keboedajaan lainnja. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmoe bisa terlepas dari masjarakat. Lekra mengadjak pekerdja2 keboedajaan oentoek dengan sedar mengabdikan daja-tjipta, bakat serta keahlian mereka goena kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaroean Indonesia.
Djaman kita dilahirkan oleh sedjarah jang besar, dan sedjarah bangsa kita telah melahirkan poetra2 jang baik, di lapangan kesoesastraan, senibentoek, moesik maoepoen di lapangan2 kesenian dan ilmoe. Kita wadjib bangga bahwa bangsa kita terdiri dari soekoe2 jang masing2-nja mempoenjai keboedajaan jang bernilai. Keragaman bangsa kita ini menjediakan kemoengkinan jang tiada terbatas oentoek pentjiptaan jang sekaja2-nja serta sendah2-nja.
READ MORE - Moekadimah LEKRA 1959
 “Pengaruh Budaya Eropa dan Cina Terhadap Seni Bangun dan Ragam Hias Di Keraton Sumenep Panembahan Sumolo (1762-1811)”. Penelitian ini mengambil pokok bahsan unsur-unsur dan yang terdapat pada komplek Keraton Sumenep. Seperti adanya unsur budaya Eropa (Belanda) dan Cina. Untuk memperoleh uraian yang jelas maka penulis dihadapkan pada pokok permasalahan diantaranya unsur-unsur budaya yang terdapat pada Keraton Sumenep madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan Keraton Sumenep sebagai situs sejarah dan sekaligus sebagai temapt objek pariwisata. Adapun metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Data yang dibutuhkan bersifat kualitatif, komparasi dan alat pengumpulan data adalah kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian keraton Sumenep adalah sebagai berikut : Keraton Sumenep terletak di pusat kota Sumenep, tepatnya disebelah Timur alun-alun kabupaten Sumenep. Keraton Sumenep ini merupakan bangunan keraton terbesar di Sumenep, bahkan di Madura ataupun di wilayah Jawa Timur, jika dibandingkan dengan keraton-keraton lainnya yang ada di wilayah Jawa Timur. Bangunan keraton Sumenep ini telah berusia lebih dari 200 tahun tepatnya tahun 1200 H atau tahun 1763 M, namun bangunan tersebut masih kokoh sampai sekarang. Arsitektur keraton Sumenep memiliki kesamaan dan perbedaan dengan keratin Yogyakarta dalam hal karakteristik bangunan dan ragam hias. Arsitektur bangunan di keraton Sumenep memiliki berbagai unsur budaya baik Hindu-Budha, Eropa, Cina dan sedikit unsur Islam. Bangunan tersebut terdiri dari Keraton Lama, Keraton Baru, Pendopo, Pintu Gerbang (Labang Mesem), Gedung Loteng (Kantor Belanda), Gedung Lonceng, dan Balai Roto yang semua memiliki unsur budaya Eropa dan Cina. Seperti juga pada atap pendopo mempunyai bubungan mirip dengan bangunan klenteng Cina. Unsur-unsur budaya yang terdapat pada keraton Sumenep meliputi unsur budaya Eropa dan Cina terlihat pada pilar-pilar besar pada bangunan pintu gerbang (Labang Mesem) dan pada bangunan keraton Sumenep memiliki tembok telanjang dan hiasan atap seperti cerobong asap. Serta atap pendopo memiliki bubungan mirip dengan kelenteng Cina. Selain itu juga keraton Sumenep memiliki ukira-ukiran kayu dengan motif bunga, hewan seperti burung phonix, naga, ikan yang merupakan unsur dari budaya Cina
READ MORE - PENGARUH BUDAYA EROPA DAN CINA TERHADAP SENI BANGUN DAN RAGAM HIAS DI KERATON SUMENEP PANEMBAHAN SUMOLO (1762-1811)
rasa itu tiba2 muncul di pikiranku... lupa sama blog yg pernah ku buat..
sedikit teringat ketika nonton film "Kambing Jantan", tapi kemudian lupa lagi...
pagi ini cukup sekian ah,,
nanti kapan2 disambung lagi... mau prepare buat nambah2 ilmu blog.!!
peace!!!
READ MORE - kangen...
|
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates
|